(KH. Abdullah Gymnastiar)
Hikam :
Dan bergeraklah menuju ampunan Allah yang memiliki surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang dijanjikan untuk orang-orang bertaqwa, yaitu
orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu
sempit dan orang-orang yang suka menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan
orang, Allah menunjuki orang-orang yang suka berbuat kebajikan.
Marah itu dapat merusak iman, seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu.
Tidaklah dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya.
Seorang pemberani adalah orang yang dapat menguasai diri dan hawa nafsunya
ketika dia marah.
Dari Abu Hurairah, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah
saw: "Berilah nasehat kepadaku, Rasulullah bersabda janganlah kamu marah
lalu beliau mengulanginya janganlah kamu marah."
Amarah tidak mutlak seratus persen terlarang karena amarah itu bagian dari
karunia Allah swt. Yang harus kita ketahui amarah bagaimana yang bisa
membawa barokah dan amarah bagaimana yang bisa mendatangkan musibah.
Menurut Rasulullah marah itu seperti jadam yang merusak manisnya madu.
Sekuat apapun keimanan seseorang kalau dia pemarah bisa rusak keimannya.
termasuk marah yang jelek.
redanya, ini termasuk marah yang kurang bagus.
marah dan lambat redanya ini termasuk marah yang paling jelek. Dan yang
paling bagus adalah lambat marahnya cepat redanya
Berbahagialah bagi orang yang punya kesadaran untuk menahan amarahnya, bukan
tidak boleh marah tapi tahan sekuat-kuatnya. Kita tidak bisa memaksa orang
lain berbuat ramah, sopan kepada kita, makin banyak harapan kita kepada
orang makin berpeluang kita sakit hati, jadi kita tidak bisa memaksa orang
lain bersikap seperti yang kita inginkan. Yang harus kita usahakan, kita
harus bisa menyikapi orang lain dengan sikap terbaik, apapun yang mereka
lakukan.
Jadi kalau ada orang yang marah jangan ditentang tapi diterima, bukannya
membenarkan kemarahan tapi memahaminya untuk damai. Dengan adanya amarah
kita bela keluarga kita, dengan adanya amarah kita bela agama dan dengan
adanya amarah kita bela orang lemah.
Rasulullah marah pada saat yang tepat dengan alasan yang tepat hasilnya
manfaat. Seperti pada saat pembagian harta setelah perang Hunaim berakhir.
Kaum anshor menyebut Rasul tidak adil. Rasul marah dan berkata: "Jika Allah
dan rasulnya tidak adil maka siapa lagi yang adil. Marahnya Rasul singkat,
punya makna, mendalam dan tidak meyakiti siapapun tapi membangkitkan
kesadaran. Yang paling penting kalau kita marah orang bisa berubah menjadi
lebih baik, tanpa terluka dan tanpa kita berperilaku dzalim.
Menahan amarah adalah dengan cara, banyak istigfar banyak membaca taudz,
berwudhu atau pindah dari tempat tersebut. Jangan biarkan kita berada di
tempat yang memancing kemarahan dan jika kita sudah marah sebaiknya kita
bertaubat kepada Allah swt.


No comments:
Post a Comment